PERBEDAAN ANTARA IMAN DAN AQIDAH

 Akidah itu rumusan baku, tak berubah, cukup dinalar. Sementara iman itu naik-turun, bertambah-berkurang (yazid wa yanqush). Iman adalah rasa; spiritualitas. Iman tak bertempat di nalar. Iman menghuni jiwa. Iman itu dinamis, sedangkan akidah statis. Iman adalah keyakinan yang menggerakkan!
Maka kita janggal ketika menyebut iman Asy’ariyah, iman Mu’tazilah, iman Mujassimah. Yang lazim adalah akidah Asy’ariyah, akidah Mu’tazilah, akidah Mujassimah. Ukuran iman adalah keyakinan dalam hati, ikrar lisan, dan manifestasi amal lahiriah. Tidak demikian dengan akidah. Akidah adalah konsepsi teologis.
Iman itu, dalam contoh tamsilnya, sebagaimana Ibrahim Khalilullah yang bertanya pada Tuhannya: “Rabbi arinî kaifa tuhyil-mawtâ, Tuhanku, perlihatkan padaku bagaimana Engkau menghidupkan yang mati!” Tuhan bertanya, “Awalam tu’min, Adakah kau belum beriman?” Ibrahim menjawab, “Balâ, walakin liyathmainna qalbî, ya, namun itu agar hatiku tenang.”
Iman adalah urusan “percaya”, yang mendatangkan ketenangan hati dalam kepercayaan itu. Kanjeng Nabi bersabda soal permintaan Ibrahim pada Tuhan itu: “Nahnu ahaqqu bisy-syakki min Ibrâhîm, kita lebih layak untuk ragu dibanding Ibrahim.”
Iman adalah penyerahan “loyalitas” kepada Dia yang menciptakan hidupmu dan kamu memasrahkan hidup pada-Nya. Iman bukan sekedar percaya pada rumusan teologis tertentu. Iman melampaui doktrin. Iman itu spiritualitas. Maka tanda iman adalah pengamalan, sedang akidah adalah penalaran.
Naasnya, banyak orang membenci sesama “manusia pencari Tuhan” hanya karena beda akidah.
Banyak orang berkonflik hanya karena beda rumusan teologi. Padahal, jika mereka ditanya, apa guna bersengketa untuk urusan “apakah Tuhan punya sifat atau tidak?” “apakah sifat Tuhan itu melekat pada Dzat-Nya?” “apakah wahyu Tuhan itu memiliki bunyi dan huruf atau tidak?” belum tentu mereka tahu argumennya. Kalaupun tahu argumennya, lalu berdebat, tidak banyak yang kemudian mengikuti alirannya. Banyak orang berdebat atas nama “memurnikan” akidah, padahal mereka tak tahu “apa itu murni” dan “mengapa harus murni”.
Banyak orang mengatasnamakan Asy’ariyah, Maturidiyah, Mu’tazilah, Mujassimah, dan lain-lain, menghabiskan energi untuk berebut jalan keselamatan, tapi tidak tahu apa inti argumen aliran-aliran teologi itu. Banyak yang mengklaim jalan keselamatan satu-satunya hanya di alirannya semata-mata karena beda rumusan teologi. Yang disayangkan, bukan iman yang makin terasah, tapi musuh yang kian bertambah. Akidah kerap tak melahirkan amal. Manusia tidak termotivasi oleh akidah. Akidah lebih kerap membuat orang menegasikan manusia lainnya yang berbeda kepercayaan.
Macam-macam ilmu aqidah antara lain:
  • a.       Ilmu Tauhid
  • Ilmu yang menerangkan tentang sifat Allah swt yang wajib diketahui dan dipercayai.
  • b.      Ilmu Usuluddin
  • Suatu ilmu yang kepercayaan dalam agama Islam, iaitu kepercayaan kepada Allah swt dan pesuruh-Nya.
  • c.       Ilmu Makrifat
  • Suatu ilmu yang membahaskan perkara-perkara yang berhubung dengan cara-cara mengenal Allah SWT.
  • d.      Ilmu Kalam
  • Sesuatu ilmu yang membahas tentang akidah dengan dalil-dalil aqliah (ilmiah) sebagai perisai terhadap segala tentangan daripada pihak lawan.
  • e.       Ilmu Akidah
  • Suatu ilmu yang membahas tentang perkara-perkara yang berhubung dengan keimanan kepada Allah SWT.
  •  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pribadi (Fiksi)

SISTEM REPRODUKSI MANUSIA (PEMBELAHAN SEL)

Fiksi Mini (Kupandang)